Halo sahabat selamat datang di website reviewsekolah.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Seluruh Jenjang Sekolah Berpeluang Dibuka, Kemendikbud Evaluasi SKB Empat Menteri oleh - reviewsekolah.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca


ILUSTRASI Siswa sekolah

JAKARTA â€" Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah berencana mengevaluasi Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang pembukaan sekolah.

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud, Jumeri mengatakan, bahwa tujuan dari evaluasi SKB, Kemendikbud ingin melihat peluang dibukanya sekolah di seluruh jenjang.

“SKB akan kita evaluasi untuk bisa mengakomodasi keinginan masyarakat. Baik yang ingin membuka maupun yang mempertahankan untuk tidak buka,” kata Jumeri, Rabu (5/8).

Jumeri menjelaskan, berdasarkan isi SKB 4 Menteri saat ini, yang bisa mengikuti pembelajaran tatap muka pada tahap pembukaan awal ialah jenjang SMP, SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA).

Setelah dua bulan berikutnya, pada tahap kedua, dibuka untuk jenjang SD dan sederajat. Kemudian, PAUD baru dibuka pada tahap ketiga. Artinya baru bisa dibuka dua bulan setelah jenjang SD dibuka.

“Banyak usulan juga dari orang tua, secara umum, persekolahan atau stakeholder sekolah, menghendaki kita segera tatap muka, termasuk untuk PAUD,” ujarnya.

Jika rencana tersebut terlaksana, Kemendikbud menegaskan bahwa faktor kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan masih menjadi prioritas utama yang akan diperhatikan.

“Kami berusaha mengakomodasi banyak hal yang terkait aspirasi masyarakat. Sebab sejauh ini, masih ada dua kutub yang berlawanan. Secara umum dari kalangan kesehatan belum ingin membuka. Sedangkan dari sekolah, orang tua, peserta didik, ingin segera dibuka.” tuturnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menambahkan, semua pihak termasuk Kemendikbud, sekolah maupun perguruan tinggi ingin kembali menggelar pembelajaran tatap muka. Namun, sebelum melakukan itu faktor keamanan dan kesehatan harus dipastikan terjaga.

“Tidak ada yang mau PJJ. Semua ingin balik tatap muka secepat mungkin, tapi kita harus memastikan keamanan, kesehatan terjaga,” kata Nadiem.

Menurut Nadiem, pembelajaran Jarak Jauh ini merupakan sutau keterpaksaan yang harus dilakukan di tengah kondisi krisis kesehatan, pandemi covid-19.

“Pembelajaran jarak jauh ini bukan yang diinginkan oleh Kemendikbud maupun pemerintah. Ini adalah keterpaksaan,” ujarnya.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai, rencana Kemendikbud untuk membuka sekolah di zona nonhijau Covid-19 dapat membahayakan kesehatan siswa. Meskipun, kebijakan itu didasarkan pada masukan dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

“Seharusnya kita bisa belajar dari sekolah-sekolah di zona hijau yang diizinkan dibuka kemudian menjadi kluster baru penyebaran Covid-19,” kata Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti.

Retno menuturkan, berdasarkan pengawasan yang dilakukan KPAI terhadap 15 sekolah yang pernah mereka kunjungi selama pandemi Covid-19, hanya satu sekolah yang dinilai sudah siap menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan protokol kesehatan yang dibutuhkan untuk membatasi penyebaran wabah tersebut.

“Kalau satu berbanding 15 itu menurut saya mengerikan sekali. Jadi seharusnya sekolah yang enggak siap, enggak usah dibuka. Bahaya buat anak-anak,” kata dia.

Menurut Retno, jika belajar dari pembukaan sekolah di zona hijau yang kemudian menjadi klaster baru penularan Covid-19, hal itu membuktikan bahwa pembelajaran secara tatap muka di zona manapun belum bisa dijadikan solusi untuk pembelajaran di masa adaptasi kebiasaan baru.

“Daripada merencanakan pembukaan sekolah di zona nonhijau, KPAI menyarankan agar Kemendikbud sebaiknya fokus menangani permasalahan yang muncul selama PJJ. Misalnya, dengan menggratiskan internet bagi siswa dan guru yang kesulitan mengakses PJJ dan menyederhanakan kurikulum,” pungkasnya.

Kemendikbud mencatat, sebanyak 68 juta peserta didik mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA) turut terdampak pandemi covid-19.

Jumeri mengatakan, dari total 68 juta peserta didik yang terdampak pandemi covid-19, dengan terpaksa harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah.

“Secara global terdapat 1,25 miliar peserta didik di dunia yang terdampak, sekitar 5,44 persennya berada di Indonesia,” kata Jumeri.

Jumeri menyebutkan, bahwa dari jumlah total peserta didik yang terdampak tersebut, sebanyak 10 persennya atau 6,87 juta merupakan peserta didik PAUD yang hingga kini masih terus belajar dari rumah.

“Kemendikbud juga mencatat, sebanyak 13 juta orang menjadi pendidik di rumah selama pandemi. Karena selama belajar dari rumah ini 75 persen tanggung jawabnya orang tua dan 25 persen tanggung jawab guru PAUD,” ujarnya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Kemendikbud, sebanyak 10 ribu guru PAUD di Indonesia yang tersebar di 34 provinsi ditemukan bahwa metode belajar dari rumah sekitar 35 persen lebih merupakan penugasan orang tua.

“Kemudian terdapat pula 542 guru PAUD yang bekerja dari rumah serta sebanyak 203 ribu guru menerapkan kebijakan belajar dari rumah,” terangnya.

Selain itu, lanjut Jumeri, hasil survei tersebut juga menemukan sebanyak 19,90 persen metode pembelajaran didapatkan dari TVRI sebagai televisi nasional. Pendidikan anak usia dini penting untuk diperhatikan dengan baik.

“Sebab, pada periode tersebut orang tua dan guru memiliki kesempatan mengoptimalkan tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan, bahwa dunia menghadapi ‘bencana generasi’ akibat penutupan sekolah di tengah pandemi virus corona.

“Kembali membawa siswa bersekolah secara aman harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Guterres menyebutkan, bahwa pada pertengahan Juli terjadi penutupan sekolah di 160 negara sehingga berdampak pada lebih dari 1 miliar siswa. Selain itu, sedikitnya 40 juta anak ketinggalan sekolah pendidikan dini.

“Ini terjadi di atas lebih dari 250 juta anak yang telah keluar sekolah sebelum pandemi dan hanya seperempat dari siswa sekolah menengah di negara berkembang lulus dengan keterampilan dasar,” katanya.

“Kini kita menghadapi bencana generasi yang dapat menyebabkan potensi manusia jadi sia-sia, mengacaukan kemajuan puluhan tahun dan mempertajam ketidaksetaraan yang mengakar,” imbuhnya.

“Begitu transmisi Covid-19 lokal terkendali, mengizinkan siswa kembali ke sekolah dan lembaga pendidikan seaman mungkin harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (der/fin)

Itulah tadi informasi mengenai Seluruh Jenjang Sekolah Berpeluang Dibuka, Kemendikbud Evaluasi SKB Empat Menteri oleh - reviewsekolah.xyz dan sekianlah artikel dari kami reviewsekolah.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.